Dialog Hujan
Feb 03
Hujan mendatangi bumi malam ini, tanpa paksaan, tanpa penolakan. Ia tak datang sendiri, ada Kilat dan Petir yang menemani. Mereka susul-menyusul seakan dua sejoli yang tak terpisahkan. Tapi kemudian Kilat dan Petir pergi, meninggalkan Hujan sendiri bersama melodi rintik yang menawan. Jika Kau ingin mendengar Hujan bersenandung, maka inilah saat yang tepat, sebab simponi nada rintiknya begitu indah dan menyejukkan.
Tak jauh dari tempat Hujan datang, seorang anak manusia sedang duduk melamun di tepi jendela kamarnya. Entah apa yang sedang ia lamuni. Sesekali ia menghela nafas dalam kemudian melepaskannya. Di lain waktu, ia menopang dagu, memainkan sulur-sulur kain yang bergantung di tepi jendela.
“Mengapa Kau melamun, Teman?” tiba-tiba Hujan bertanya pada anak manusia yang sedang membisu itu.
“Aku sedang gelisah, Hujan,” jawabnya dengan nada sedih, “Aku terkurung di sini, menekuri hidup tanpa asa. Waktu selalu saja meninggalkanku. Padahal, Aku ingin sekali berjalan dan berlari bersamanya ke mana saja. Aku ingin mengejar Asa yang terus menggelitik jiwaku, tapi Aku masih terkurung di sini! Kau tak akan mengerti, betapa Aku merindukan Mereka beriringan di sisiku.”
“Jangan bersedih, dengarkanlah suaraku! Kau akan menemukan Waktu dan Asa setelahnya.” Hujan mendamaikan hati si anak manusia dengan suaranya yang lembut.
“Benarkah? Aku sungguh bisa bertemu mereka? Hantarkan Aku! Hantarkan Aku pada Mereka!” anak manusia mulai mendesak Hujan. Ia ingin sekali bertemu Waktu dan Asa.
“Sabar, Teman! Aku akan menghantarkanmu sebentar lagi,” jawab Hujan.
Anak manusia itu terus mengejar Hujan dengan pertanyaan demi pertanyaan, “Apa Kau selalu datang seperti ini? Dari mana Kau datang? Mengapa Kau datang ke tempatku?”
“Aku datang dengan cara yang berbeda. Terkadang Kilat dan Petir menemaniku, terkadang Aku hanya sendiri. Aku datang dari langit dengan banyak alasan. Tidakkah Kau pernah membaca kitabmu, Teman?”
“Hmm….pernah, tapi jarang….,” jawabnya malu-malu.
Hujan pun memulai kisahnya, sementara si anak manusia dengan tekun dan sabar menanti penjelasan.
“Aku datang agar Kau memperoleh rezekimu, sehingga Kau tidak menyekutukan Tuhan Kita.”
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS. Al Baqarah : 22)
“Aku datang agar Kau bergembira. Kedatanganku akan membuat Bumi bahagia, karena tanahnya akan subur dan menghidupi jutaan pohon, hewan, serta melepas dahagamu.”
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira” (QS. Ar Ruum: 48)
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (QS. As Sajdah: 27)
“Aku datang agar para pelaut bahagia. Bahtera mereka akan berlayar sesuai kehendak Tuhan kita.”
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai” (QS. Ibrahim : 32)
“Aku datang agar Kau belajar derma.”
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah: 265)
“Aku datang agar Kau mengetahui perumpamaan yang benar dan salah.”
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan” (QS. Ar Ra’d : 17)
“Aku datang agar Kau bersyukur.”
“Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat)” (QS. Al-Furqaan: 50)
“Ah, betapa banyak alasan yang ingin kusampaikan, tapi Aku tak punya cukup waktu untuk menjelaskan semuanya. Aku harus mengunjungi tempat lain,” lanjut Hujan.
“Tunggu! Jika kedatanganmu dengan alasan baik, mengapa Kau mengubah dirimu menjadi banjir yang jahat? Teman-temanku kehilangan rumah dan tanah!” cecar si anak manusia penasaran.
“Bukan Aku yang menyebabkan banjir, tapi teman-temanmu! Aku mendengar Bumi menangis, karena Pohon yang menaunginya kini musnah ditebang tanpa ampun. Sungai pun menangis, sebab airnya tak jernih lagi disebabkan sampah teman-temanmu telah memenuhinya. Ia tak bisa menghidupi ikan dan sahabat-sahabatnya di sekitar. Sementara Aku, Aku hanya bertugas mendatangi Bumi dan mengalir ke mana diriku mengalir, sesuai perintah Tuhan kita. Tidakkah teman-temanmu berpikir?” jawab Hujan dengan nada sedih.
“Maafkan Aku, Hujan. Aku telah salah menuduhmu,” ujar si anak manusia menyesal.
Tiba-tiba, anak manusia teringat dengan janji Hujan yang akan menghantarkannya ke tempat Waktu dan Asa.
“Kau bilang tadi Kau akan menghantarku bertemu Waktu dan Asa setelah ini. Di mana mereka?” lanjutnya.
“Kau akan bertemu mereka jika Kau rajin membaca kitabmu. Kau akan bertemu mereka, jika Kau mengenal Tuhanmu. Bacalah kitabmu! Setelahnya, Kau akan bertemu Waktu dan Asa,” jelas Hujan.
Hujan pun bersiap-siap untuk menyelesaikan tugasnya hari ini dan meninggalkan tempat anak manusia itu.
“Aku harus pergi. Aku pasti akan datang lagi ke tempat ini, dan Kita akan bercerita lagi tentang kisahku, kisahmu dan kisah mereka,” pamit sang Hujan.
“Baiklah, Aku akan menunggumu. Semoga usiaku masih sempat menunggumu. Sampai bertemu lagi, ya!” lambai si anak manusia menghantarkan kepergian Hujan dengan penuh makna.
Anak manusia bangkit dari duduknya, kemudian ia mengambil sebuah kitab tebal dari lemarinya. Ia tetap ingin mengejar Waktu dan Asa, hingga mereka sampai di tempat yang terang.
——–
Oleh: Evyta Ar
Terinspirasi dari tulisan teman-teman tentang alam.

























