Si Ulong, Ayam Bangkok Kecilku yang Unik

Feb 01

Ayah saya adalah seorang penggemar berat Ayam Bangkok. Sejak saya masih kecil hingga dewasa seperti sekarang ini, ayah sangat suka memelihara ayam Bangkok dan menternakkannya hingga berjumlah puluhan. Jika dulu ayam Bangkok ayah digunakan untuk ajang adu ayam, alhamdulillah sejak beberapa tahun yang lalu, ayah bertaubat dan hobi adu ayam ini sudah berhenti. Tetapi hobi untuk memelihara ayam Bangkok tetap tidak pernah surut, dan inilah yang menjadi salah satu penghilang lelah dan penat bagi ayah. Ayah saya suka sekali melihat ayam-ayamnya bertelur, menetas dan tumbuh besar. Pengalamannya yang berpuluh tahun dalam beternak ayam Bangkok pun sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Beliau sangat paham bagaimana memilih ayam yang bagus atau tidak, cacat atau benar-benar cocok untuk induk.

Ayam-ayam yang sudah remaja, sebagian ada yang kami sembelih untuk dimakan. Sedangkan ayam dewasa yang sudah cukup umur, sebagian dijual dan ada yang dijadikan sebagai induk. Setiap pagi dan sore, ayam-ayam Bangkok ayah ini menjadi teman bersantai dan berkumpul kami di halaman belakang rumah. Rasanya sangat menyenangkan melihat keindahan bulu dan kegagahan ayam Bangkok ini. Belum lagi suara kukuknya yang bergema ke seluruh halaman.

Beberapa bulan yang lalu, puluhan ayam ayah mati terkena penyakit, dan seluruh indukan pun tidak selamat. Ayah kemudian meminjam beberapa induk ayam Bangkok betina dan jantan dari temannya untuk diambil keturunannya. Warnanya bermacam-macam, ada yang merah-coklat, ada yang bintik-bintik hitam-putih, ada pula yang hitam khas ayam Siam. Mereka semua sekarang sudah menghasilkan anak-anak ayam lagi yang berjumlah puluhan, dan masih sedang bertelur dan mengeram lagi!

Ada satu induk ayam betina berwarna merah-coklat yang sangat unik. Jika ia bertelur, ia akan memilih sendiri telur mana yang akan ia erami, selebihnya akan ia patuk sendiri, dan tentu saja telur-telur yang dipatuk akan mati. Nah, ketika mengetahui hal tersebut pada siklus bertelur yang keduanya, ayah sengaja mengambil telur-telur yang mau dipatuknya untuk kemudian ditetaskan menggunakan mesin tetas. Jangan dikira mengambil telur tersebut mudah, si induk dengan sangarnya mengejar dan mematuk ayah, sebab ia tidak terima ‘dilangkahi’. Meskipun demikian, telur-telur itu tetap berhasil berada di tangan ayah.

Beberapa telur yang ditetaskan di mesin tetas tadi akhirnya menetas juga tiga hari yang lalu, tetapi hanya satu saja yang berhasil, selebihnya telur itu busuk dan mati. Si anak ayam kecil ini akhirnya kami pelihara tanpa induk di dalam sebuah kardus, sebab induk yang terpisah dari anaknya tidak akan mau merawat anak ayam tersebut. Awalnya saya tidak terlalu ‘ngeh’ dengan anak ayam ini, tapi kemudian suara ciap-ciapnya begitu nyaring di dapur kami. Saya pun tak tega melihatnya dan saya gendong anak ayam ini. Tapi tahukah yang terjadi kemudian?

Seperti layaknya anak ayam terhadap induknya, si ayam kecil ini pun demikian terhadap saya. Jika saya letakkan ke dalam kardus, ia langsung ciap-ciap nyaring tak ada hentinya. Jika saya gendong lagi, ia diam. Ketika saya keluarkan lagi dari kardusnya, ia tak mau berdiam diri dan mengikuti ke mana saya pergi, persis seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Saya terkikik sendiri bersama mamak dan adik. Sepertinya saya punya anak baru!

Si ayam kecil ini saya beri nama Ulong. Ulong akan mendekati saya dan menaiki kaki, tangan dan badan saya. Jika saya letakkan di lantai, dia pun akan mengulangi hal yang sama. Saat berhasil mendarat di tubuh saya, Ulong akan menyelusup ke sela-sela baju dan lengan, sepertinya dia ingin mencari tempat yang hangat. Kalau saya letakkan lagi ke dalam kardus, suara ciap-ciapnya semakin melengking dan bergema. Kejadian ini terus berulang hingga saya hapal tingkah-laku si ayam kecil. Saya rasa, mungkin ia sedang mencari kehangatan bulu dan tubuh induknya.

Saya pun jadi semakin berempati dan sayang padanya. Seekor anak ayam yang kesepian, tanpa kasih sayang sang induk dan saudara-saudaranya. Tentu saja saya cukup memahaminya. Sudah sunnatullah, setiap anak yang lahir akan merindukan kasih sayang orangtuanya, begitu pula dengan hewan. Saya pun berniat untuk ikut merawatnya bersama ayah. Semoga Ulong bisa tumbuh selamat hingga dewasa. I love you, Ulong!

Ini nih foto si Ulong :)

Update 9 September 2012

Si Ulong udah besarrrrr. Bandelnya bukan main, lasak ke sana-sini. Walaupun dia ayam siam, tapi warnanya mirip ayam hutan, lasaknya juga sama haha. Ga sia-sia netas cuma seekor, hasilnya ayam bagus. Dulu induknya hasil pinjam dari teman ayah.

Ulong udah dewasa

advertisement

Satu Komentar

  1. hikmah pratiwi /

    wah kk pecinta ayam juga ya, sama donk, dari kecil jga suka ayam, dan dulu asal ada anak ayam ato ayam yang sakit dibawa tidur dikamar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>