Bapak Tua Penjual Kerupuk

Sep 22

Si Bapak, yang tidak sempat saya tanyakan namanya, adalah seorang penjual kerupuk bangka keliling yang saya lihat secara tak sengaja saat perjalanan pulang dari makan siang. Awalnya saya kira beliau hanya seorang penjual kerupuk biasa, tapi setelah kendaraan saya semakin mendekat, saya sangat terkejut mengetahui bahwa ternyata beliau buta! Di bahu kirinya, ia memanggul puluhan bungkus kerupuk bangka dengan sebilah bambu panjang sambil terus berjalan kaki. Sementara tangan kanannya lihai memegang sebatang kayu sebagai alat untuk menuntun jalan. Saya dan teman pun berhenti untuk membeli kerupuknya yang ia jual seharga Rp. 5000 per bungkus. Melihat perawakan dan raut wajahnya, saya taksir usianya mungkin sudah di atas 50 tahun-an. Bola matanya pun hanya terlihat bagian yang berwarna putih saja, seperti umumnya orang yang matanya buta. Setelah membayar si Bapak, kami kemudian berlalu dan melanjutkan perjalanan pulang, tanpa ingat untuk menanyakan nama beliau.

Sepanjang perjalanan, ada banyak pertanyaan yang menguak di benak saya. Bagaimana nanti beliau pulang, ya? Kalau ada orang jahat atau iseng yang membayar kerupuknya dengan uang seribu rupiah, apa beliau tahu? Alih-alih pertanyaan tersebut terjawab, teman saya justru menambahkan kisah hebat si Bapak, yang ternyata pernah ia lihat juga berjalan di daerah yang lumayan jauh dari tempat kami berhenti tadi, mungkin sekitar puluhan kilo meter, dan beliau menempuhnya dengan jalan kaki.

Tasbih dan tahmid berulang kali saya lafadzkan. Maha Suci Allah atas segala bentuk penciptaan serta peristiwa yang terjadi di muka bumi ini. Setiap episode kehidupan pasti saling berkaitan satu sama lain, begitu juga halnya pertemuan kami dengan si Bapak penjual kerupuk tadi, tentu ada hikmah besar yang Allah sampaikan. Kekaguman saya belum habis sampai catatan ini saya tulis. Mengetahui seorang buta yang tetap berusaha mencari sesuap nasi, walaupun harus berlelah-lelah berjalan kaki puluhan kilo meter menjajakan kerupuk yang kemungkinan besar untungnya juga tidak terlalu banyak.

Dua jempol saya untuk si Bapak atas kegigihannya mencari nafkah dan mental pengusahanya yang luar biasa. Walaupun buta, beliau tidak meminta-minta alias menjadi pengemis. Bayangkan saja, seseorang yang buta, memanggul dagangan yang berat, berpanas-panas ria, berjalan kaki menyusuri jalan berpuluh kilo meter. Padahal, ada banyak orang buta di luar sana yang berpanas-panasan untuk “menengadahkan tangan”, mencari rezeki sebagai pengemis. Salut untuk si Bapak!

Seperti ditegur saja rasanya saat dipertemukan dengan si Bapak penjual kerupuk, sebab sepagian ini saya ‘sempat’ beberapa kali mengeluh karena target yang belum tercapai. Saya sendiri sangat bersyukur diperlihatkan Allah episode siang tadi. Lewat beliau, Allah menitipkan pelajaranNya untuk saya agar lebih bersyukur, bersabar, serta tetap berikhtiar dan tawakkal dalam menjalani usaha yang saya rintis dari nol. Bersyukur, karena saya bekerja dengan kondisi yang nyaman, fisik yang lengkap dan tidak perlu berkeringat bahkan berpanas-panasan. Itu pun masih sering juga mengeluh! Bersabar, sebab setiap kesabaran akan berbuah keindahan. Puji syukur kepada Allah, selalu saja, Allah mengingatkan saya dari arah yang tidak disangka-sangka. Alhamdulillah.

Terima kasih, pak! Saya berdoa kepada Allah, agar suatu saat kelak, saya dipertemukan lagi dengan Bapak dalam keadaan yang lebih baik.

Catatan: Barangkali, apa yang saya pernah rasakan, pernah juga dirasakan oleh teman-teman. Semoga kita tak bosan untuk belajar bersyukur dan bersabar ya… :)

Kamis, 22 September 2011

Leave a Reply