IBSN : Padi, Sang Guru Pembelajar

Feb 23

Tak banyak yang ingin memahami secara mendalam filosofi padi dalam kehidupan. Padi, yang pada umumnya hanya dikenal sebatas pemenuh kebutuhan primer, mengungkapkan nasihat terbaiknya melalui eksistensinya di muka bumi. Saya tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang sosok satu ini, sebab banyak orang menggunakan dirinya sebagai petuah bijak kehidupan, namun tak banyak orang yang mengaplikasikan petuah tersebut dalam kehidupan.

credit: trekearth.com

“Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk”

Makna yang sangat dalam. Mengajarkan kepada kita etika kerendahan hati dan kemanfaatan terhadap sesama mahkluk. Kalau kita perhatikan bagaimana para petani menanam padi, mungkin kita akan berdecak kagum kepada mereka. Anda pernah membayangkan para petani menanam padi sejak awal hingga akhir?

Mereka harus membajak sawahnya terlebih dahulu dengan bersusah payah, ada yang menggunakan kerbau, ada pula yang menggunakan mesin. Petani pun harus memasukkan bibit padi di antara lahan becek dan kotor, mengairinya dengan sabar dan penuh harapan. Sebab sedikit saja lahan tersebut kering, tanaman padi akan mati. Selama masa penanaman, mereka senantiasa menjaga air, pupuk, dan hal-hal yang dibutuhkan oleh sang padi untuk tumbuh subur.

Saat sudah subur, padi tak bisa langsung diambil. Ia harus matang terlebih dahulu hingga bisa dipetik untuk kemudian diolah menjadi beras. Sedangkan pada masa subur itu, rawan bagi para petani membiarkan padinya tanpa penanganan khusus. Alhasil mereka harus menjaga dengan menggunakan orang-orangan sawah dari serangan burung pemakan biji. Mereka harus bergantian menunggu di balik rumah-rumahan tepas di tengah sawah, setiap kali ada burung yang mendekat, para petani akan dengan sigap menggoyangkan tali penghubung orang-orangan sawah. Terkadang mereka harus berburu tikus dan ular untuk mencegah padi-padi mereka dirusak. Lelah dan perih mereka lalui hanya untuk sepetak sawah sumber penghasilan.

Akhirnya, masa panen pun tiba. Masa di mana para petani dengan hati gembira memanen padi mereka, dengan harapan akan bisa memperoleh sesuap nasi dan sebakul harapan hidup lainnya. Tapi tunggu dulu, ternyata pekerjaan para petani belum selesai sampai di sini. Mereka harus memisahkan padi dari sarangnya kemudian menjemurnya dan mengupas kulitnya dengan sekam agar menghasilkan beras.

Pekerjaan yang teramat panjang dan berat, sebab untuk bisa memanen padi, dibutuhkan waktu 3 sampai 6 bulan paling lama. Belum tentu jika panennya berhasil. Tak sedikit petani yang mengalami gagal panen karena berbagai faktor. Padahal para petani hanya dihargai sangat murah jika beras sudah diolah, bisa berselisih sekitar Rp.3000 hingga Rp.4000 dengan harga pasar. Sangat murah. Entah itu sepadan dengan kerja keras mereka entah tidak, tak ada yang peduli.

Begitulah betapa hebatnya sang padi. Untuk menanamnya saja membutuhkan kerja keras dan kesabaran yang membumi. Tapi mari kita perhatikan secara seksama, apakah para petani menghentikan pekerjaannya untuk menanam padi? Tidak. Justru mereka menaruh harapan kepada Tuhan dengan sarana padi sebagai buah pengharapan hidup yang lebih baik.

Sedangkan tanaman padi saat belum berisi, tubuhnya tegak berdiri dengan elegan. Menunjukkan keinginannya untuk diperhatikan dan memberikan tanda bahwa dirinya tumbuh subur dan tidak layak untuk diambil sebelum matang. Tetapi semakin lama dirinya berisi padi, maka tubuhnya kian tunduk sebab berat menahan butir-butir padi yang bermanfaat itu. Hal ini justru terbalik dengan manusia, semakin manusia itu berisi, punya kemampuan hebat, punya kelebihan harta, ilmu, kedudukan, dsb, semakin pongah dan angkuh pula sikapnya terhadap orang lain. Tidak semua memang, tetapi pada umumnya begitu.

Mengapa kita tidak belajar dari padi? Yang senantiasa rendah hati meski kita tahu padi begitu besar manfaatnya untuk manusia. Tanpa padi, rakyat Indonesia tentu kesulitan makan makanan pokok, jika diganti dengan yang lain, efeknya tentu tak akan sama dengan beras. Begitu pula para ternak yang membutuhkan padi untuk makan. Pun bagi para pengrajin yang menggunakan gabahnya untuk diolah kembali hingga mampu menghasilkan uang untuk penghidupan.

Mengapa kita tidak berpikir seperti padi? Begitu hebatnya kah kita hingga terlalu angkuh berhadapan dengan orang lain? Bahkan kepada orang-orang yang kehidupannya jauh lebih sulit dari kita, kita mencibir bahkan tak memandang sebelah mata pun. Itu kah manusia? Ternyata padi lebih rendah hati dibanding manusia :)

Bagi mereka para pembelajar, meniru filosofi padi tidaklah ada ruginya, bahkan menuai manfaat yang begitu besar. Semakin kita memiliki kelebihan seharusnya semakin rendah hati lah kita, sebab dengan kerendahan hati itu Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan yang lain.

Tulisan ini hanyalah sebuah kisah inspiratif dari padi, sosok yang sering kita kesampingkan meski sudah memberikan manfaat bagi kehidupan kita. (ear)

IBSN adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet
dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network

advertisement

2 komentar

  1. sekali dua boleh donk menengadah…

  2. tambahan :
    pada saat bibit tersebut ditanam/dipindahkan ke Lahan sawah, jika salah cara memasukkan bibit nya ke daLam Lumpur sawah tersebut.. padi tersebut tidak akan dapat hidup.
    keteLitian dan ketekunan memang di perLukan.

    iya, grup band padi juga menggambil filosofi arti nama band nya sama seperti ini.hhe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>