Merica (Lada)

Oct 23

Seperti kata pepatah, “Pucuk dicinta ulam tiba”, akhirnya saya mendapatkan juga pohon merica ini secara kebetulan. Alhamdulillaah, rizki dari Allaah. Jadi ceritanya itu saya udah lama ingin tanam pohon merica. Ditambah lagi ada teman yang sering posting foto pohon merica, jadinya semakin menggebu-gebu deh niat saya untuk menanamnya (kayaknya banyak deh tanaman yang bikin ‘kepinginan’ :D).

Nah, beberapa hari lalu, mamak saya mampir ke tukang tanaman langganan kami untuk membeli racun tikus karena hama tikus di rumah kami sudah sangat mengganggu. Ada satu pohon yang memang unik dan mamak saya belum tahu itu apa. Setelah ditanya ternyata itu pohon merica pesanan orang yang tidak jadi dibeli alias batal dibeli oleh calon pembelinya. Sudah ditawarkan ke banyak orang tapi ga laku-laku juga. Sama yang jual, yang kebetulan masih saudara jauh, ditawarinlah pohon ini ke mamak seharga 15rb rupiah.

Wah, mamak saya senangnya bukan main, langsung diboyong pulang. Sampai di rumah giliran saya yang kegirangan bukan kepalang, soalnya kesampaian juga punya pohon merica, sudah berbuah pula. Padahal saya sama sekali ga kasih tau ke mamak kalau saya juga sedang mencari pohon merica. Subhaanallaah…inilah rizki itu, dan semoga bisa terus jadi rizki kami sampai merica ini panen dan beranak-pinak, aamiin.

Pohon Lada aka Merica

Merica atau Lada memiliki nama latin Piper nigrum dan merupakan famili Piperaceae. Tanaman lada berasal dari India selatan, tetapi banyak dibudidayakan di daerah tropis, termasuk Indonesia. Yang dibudidayakan dari tanaman ini adalah buahnya yang terangkai seperti anggur. Umumnya buah lada dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai bumbu dan rempah-rempah, juga sebagai obat.

Kata “pepper” diturunkan dari bahasa asli Dravidia di India selatan, pippali, sebutan untuk lada panjang. Kemudian bangsa Yunani kuno dan Latin mengubahnya menjadi “piper” untuk sebutan lada hitam maupun lada panjang, yang sebenarnya berasal dari tanaman yang sama. Sedangkan kata “pepper” sendiri arti asalnya adalah “energi”.

Buah Lada Hijau (Mentah)

Ada beberapa macam lada yang beredar di pasaran seperti lada putih, lada hitam, hijau, oranye dan merah. Tapi jangan salah, lada-lada ini berasal dari pohon yang sama. Yang membedakan warnanya adalah proses pengolahannya.

Lada hitam dihasilkan dari buah yang masih hijau/mentah, lalu dimasak sebentar di dalam air panas atau cukup direndam di dalam air biasa selama seminggu. Proses perebusan atau perendaman ini akan memecah dinding sel pada merica dan mempercepat kerja enzim pencoklatan selama pengeringan nanti. Merica yang sudah direbus/direndam kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari atau dengan mesin pengering. Merica/Lada akan menyusut dan warnanya berubah menjadi hitam keriput. Inilah yang disebut lada hitam.

Lada putih dihasilkan dari buah yang sudah matang berwarna merah yang direndam selama satu minggu. Perendaman ini akan membuat daging buah lunak. Selanjutnya buah digosok-gosok akar kulitnya terlepas, lalu dikeringkan. Karena lada putih telah melalui proses pembuangan kulit, maka rasanya sedikit berbeda dari lada hitam, sebab senyawa tertentu yang ada di kulit buah sudah tidak ditemukan lagi.

Lada hijau mirip seperti lada hitam, diproses dari buah mentah. Buah mentah ini kemudian diawetkan di dalam cuka atau air garam, lalu dikeringkan. Lada hijau biasa digunakan pada masakan Thailand. Menurut referensi, lada hijau memiliki rasa yang segar dan aroma yang enak.

Lada oranye/merah biasanya diambil dari buah yang matang dan diawetkan di dalam cuka atau air garam, lalu dikeringkan.

ujicoba perendaman lada hijau yang rencananya akan diolah menjadi lada hitam.
Terlihat air rendaman menghitam, mungkin itu yang disebut efek dari enzim kecoklatan ya…

Lada/Merica mengandung minyak atsiri, alkaloid piperina, filandrena, dan kavisina. Piperin yang terkandung di dalam lada inilah yang menyebabkan kita bersin ketika terhirup atau perih ketika terkena mata (tahu, kan, semprotan merica yang biasa buat membela diri dari penjahat?). Zat piperin ini dapat membantu penyerapan vitamin B, selenium, betakaroten, dan kurkumin.

Selain sebagai sumber vitamin C dan K, lada juga merupakan sumber zat besi, kalsium, mangan, magnesium, kalium, dan tembaga. Aroma khas yang dihasilkan berasal dari zat yang terkandung di dalamnya seperti pipena, limonena, sabinen, linalool, dan kariofilena.

Lada juga dimanfaatkan sebagai obat diare, sembelit, sakit telinga, dan penyakit jantung. Selain itu juga dapat mengobati suara serak, hernia, perut kembung, insomnia dan gigitan serangga. Konon daunnya juga bisa meluruhkan batu ginjal. Untuk khasiatnya sebagai obat, mungkin bisa dipelajari lebih lanjut lagi ya. Saya tadi baca sekilas di artikel kesehatan saja.

Rencananya saya mau coba proses lada hitam dan lada putih. Lada hitam masih proses perendaman, sementara lada putih masih menunggu buah matang dulu. Selanjutnya nanti saya coba update foto-fotonya, semoga berhasil hehe…

advertisement

Satu Komentar

  1. sriananingsih /

    saya ingin menanam lada/merica, dimana saya bisa mendapatkan bibit nya. Apakah lada hrs di iklim yang dingin, lembab,berapa tahun sekali lada bia di panen. Thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>